Menilik Hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi

Menilik Hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi

Menilik Hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi – Amerika Serikat termasuk Negara Adidaya yang menjadi kiblat hampir semua negara. Kekuatannya tidak hanya membuat negara lain memberi hormat padanya. Namun, pada kenyatan mereka berhasil melajukan ilmu pengetahuan hingga seperti sekarang. Tetapi kedudukan Amerika tidak lepas dari sejarah panjang yang ia lalui. Dahulu negara ini hanya daratan kosong yang dipenuhi oleh pendatang yang rebutan wilayah.

Bahkan berbagai sumber menyebut bahwa Amerika pernah berada digaris isolasi dari negara lain. Bukankah sangat berbeda dengan kondisi sekarang? Dimana sekarang Amerika seakan menjadi polisi dunia yang selalu penasaran akan urusan negara lain. Sedangkan Arab Saudi yang juga mempunyai sejarah super panjang memberikan peluang Amerika memasuki Kawasan Ottoman. Waktu itu, terdapat pengkhianatan yang dilakukan pihak Ottoman sehingga tentara Amerika mampu mengobrak-abrik pemerintah besar islam.

Kenyataannya ini membuat beberapa sumber menyatakan bahwa Arab Saudi bukan negara yang pro dengan negara islam lainnya. Mereka lebih mendukung Amerika dari pada Palestina. Hubungan mereka berlanjut begitu saja saat diketahui terdapat kerajaan minyak di Arab Saudi. Amerika mengirimkan tenaga produksi profesional yang berasal dari perusahaan agen slot untuk membantu Arab Saudi. Sehingga kedua negara ini mampu berjaya dengan hasil minyak yang diproduksi. Arab Saudi yang menjadi sentral dari pemasok minyak dunia memberi jatah 9% untuk minyak di Amerika.

Pasalnya, diketahui Negeri Paman Sam itu telah mengusahakan pengelolaan minyaknya sendiri. Belum lama ini, hubungan kedua negara ini dikabarkan memanas. Hal tersebut dikarenakan usulan Amerika yang menyuruh Arab Saudi pengontrol produksi minyak. Namun, tidak lama setelah itu keduanya kembali bertemu untuk membicarakan kerjasama di bidang pertahanan. Tepat, pada kenyatananya kerjasama pada bidang tersebut sudah terjalin sejak lama.

Banyak ahli yang menyatakan bahwa keputusan untuk semakin memperkuat pertahanan karena kekhawatiran Amerika Serikat terhadap seragan dari Negara Timur Tengah lain. Kerjasama ini berdampak pada banyaknya pembelian senjata oleh Arab Saudi. Presnrtasenya mencapai 15%. Kisaran tersebut tentu saja berbanding sangat jauh jika dibandingkan dengan angka ekspor minyak yang Arab Saudi lakukan. Seperti yang sudah diketahui bahwa setiap kerjasama bilateral tentu memiliki tujuan spesifik.

Meskipun disini terlihat jelas bahwa Amerika Serikat sangat diuntungkan untuk urusan pendapatan dari penjualan senjata. Tetapi posisi Arab Saudi juga tidak buruk-buruk amat. Sebab, negeri dengan mayoritas islam itu memiliki alasan untuk mempertahankan hubungan kerjasama. Hal serupa juga terjadi pada hubungan bilateral yang pernah terjalin antar Indonesia dengan Korea Selatan. Keduanya berusaha untuk meningkatkan bidang ekonomi.

Berbagai langkah diambil untuk menunjang percepatan mencapai tujuan. Seperti yang sudah diketahui bahwa hubungan semacam ini tentu tidak akan lepas dari politik tiap negara. Itu kenapa setiap negara memilih kategori yang memberikan keuntungan lebih. Misalnya saja, penyempurnaan pengelolaan Energi Baru Terbarukan di Indonesia yang terbantukan oleh peran Denmark. Dimana negara tersebut memberikan pengambaran mengenai pengaplikasian EBT di 4 wilayahan di Tanah Air.

Keputusan untuk kerjasama tersebut membuahkan hasil yang cukup menyenangkan. Meskipun begitu setiap negara harus mampu menjaga ritme kerjasama. Jangan sampai salah satu negara mendominasi urusan negara lain. Ruang lingkup kerjasama harus jelas serta dijalankan sesuai aturan yang telah disepakati. Selain itu, usahakan untuk mencapai tujuan secepat mungkin. Hal tersebut yang nantinya menjadi bukti pada masyarakat mengenai hasil maksimal dari hubungan bilateral. Jadi, tetap fokuskan pada apa yang ingin dicapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!