Kerjasama Saudi Arabia-Amerika Serikat Saling Tergantung Namun Seringkali Berbeda

Kerjasama Saudi Arabia-Amerika Serikat Saling Tergantung Namun Seringkali Berbeda

Kerjasama Saudi Arabia-Amerika Serikat Saling Tergantung Namun Seringkali Berbeda – Hubungan antara negara adidaya dan negara kerajaan di Timur Tengah ini tak pernah benar-benar berada dalam satu harmoni. Amerika Serikat menganggap negara Raja Salman ini identik dengan pembiayaan teroris, penistaan hak asasi, dan kurang transparan dalam proses demokrasi. Meskipun kedua negara ini memiliki hubungan yang sangat erat secara historis, keretakan hubungan diplomatis ini mulai nampak pada masa pemerintahan Obama. Saudi Arabia merasa kecewa terhadap pemerintahan Amerika dalam usaha melengserkan presiden Mesir, Hosni Mubarak. Pihak Amerika Serikat dikatakan kurang suportif dalam hal tersebut. Pemerintahan Arab Saudi kala itu juga tidak setuju dengan visi Obama yang hendak menjalin hubungan diplomatis yang baik dengan Iran. Dalam sejarah, Amerika dan Arab pernah memiliki kesamaan tujuan untuk mengecam keras aksi Iran, negara Islam Syiah yang dinilai ekstrim.

Konflik kedua negara berpengaruh di dunia ini juga pernah terjadi seiring munculnya konflik Israel-Palestina. Sebelum serangan nuklir dan teror pecah di antara kedua negara tersebut, Amerika Serikat pernah mendukung kaum Yahudi untuk mendirikan negara sendiri yakni Israel, di tanah Palestina, sementara Arab Saudi sendiri menentangnya. Berhubungan dengan hal ini, konflik kedua negara tersebut mereda pada masa pemerintahan Barrack Obama.

Selama masa intifada kedua pada tahun 2000-2005, Riyadh mengajukan perdamaian atau perbaikan hubungan dengan Israel sebagai balasan dibebaskannya Palestina dari pendudukan Israel. Kemudian keputusan ini diterima dan didukung oleh staf kepresidenan Barrack Obama, begitu pula pada masa pemerintahan presiden terdahulu, yaitu G.W. Bush. Sebaliknya, pemerintah Arab Saudi banyak mengkritik aksi Donald Trump yang menyatakan dukungan menyeluruh terhadap Israel. Jaksa Agung Saudi Arabia juga menentang keputusan Amerika Serikat yang mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota negara Israel.

Meski hubungan kedua negara besar ini cukup kuat melalui sistem perdagangan dan kemiliteran, banyak penduduk Amerika Serikat yang menyatakan ketidak setujuannya atas sikap Arab Saudi yang membatasi hak perempuan dan dinilai terlalu konservatif. Perbedaan tersebut bersumber dari ideologi yang berbeda. Amerika Serikat yang memiliki ideologi sekuler dalam negara konstitusional, sedangkan Arab Saudi merupakan negara bersistem pemerintahan monarki dan Islam konservatif.

Terlepas dari seluruh konflik yang ada, kedua negara ini telah menjalin kerjasama yang kuat sejak akhir abad ke-20. Arab Saudi yang merupakan negara produsen minyak terbesar di dunia, melakukan ekspor minyak mentah sebanyak kurang-lebih 10.000 barel per hari kepada Amerika Serikat untuk menjadi pasokan energi. Sebaliknya, Amerika Serikat menjadikan Arab Saudi rumah bagi para militer karena nilai investasi dari anggota agen bola yang berasal dari Amerika ini mencapai 40 miliar USD dengan Saudi Arabia. Di samping hal itu, Trump mengatakan Saudi Arabia mampu memecahkan 150.000 masalah tenaga kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *